본 연구는 인도네시아 출신 정부초청외국인장학금(Global Korea Scholarship, GKS) 지원자들이 대학 전형 선발 과정에서 자신을 어떻게 제도적으로 '가독 가능한(institutionally readable) ' 존재로 ...

http://chineseinput.net/에서 pinyin(병음)방식으로 중국어를 변환할 수 있습니다.
변환된 중국어를 복사하여 사용하시면 됩니다.
https://www.riss.kr/link?id=T17551744
서울 : 한국외국어대학교 대학원, 2026
학위논문(석사) -- 한국외국어대학교 대학원 , 교육학과 , 2026. 8
2026
한국어
370 판사항(22)
서울
Rewriting Myself? A Relational Autoethnography of Performing "Interestingness" as an Indonesian Applicant within the Global Korea Scholarship (GKS) Selection Process
viii, 177 p. ; 26cm
한국외국어대학교 논문은 저작권에 의해 보호받습니다.
지도교수: 전재은
참고문헌: p. 147-158
I804:11059-200001025563
0
상세조회0
다운로드본 연구는 인도네시아 출신 정부초청외국인장학금(Global Korea Scholarship, GKS) 지원자들이 대학 전형 선발 과정에서 자신을 어떻게 제도적으로 '가독 가능한(institutionally readable) ' 존재로 ...
본 연구는 인도네시아 출신 정부초청외국인장학금(Global Korea Scholarship, GKS) 지원자들이 대학 전형 선발 과정에서 자신을 어떻게 제도적으로 '가독 가능한(institutionally readable) ' 존재로 구성하는지를 탐구한다. 이를 위해 본 연구는 이 과정을 강제된 가독성(coerced legibility)이라는 개념으로 이론화하며, 이를 자신의 경험, 성취, 포부 및 미래 계획을 공로(merit), 준비성(preparedness), 그리고 기여 가능성(contribution)이라는 제도적으로 인정되는 서사로 번역하도록 요구받는 압력으로 정의한다.
본 연구는 부르디외(Bourdieu)의 아비투스(habitus), 상징적 폭력(symbolic violence), 그리고 히스테리시스(hysteresis) 개념을 바탕으로, 공로는 개인이 단순히 소유하는 속성이 아니라 수행(performance)을 통해 구성되고 제도적으로 인정받는 것임을 주장한다. 연구 방법으로는 관계적 자문화기술지(relational autoethnography)를 활용하여, 연구자의 GKS 지원 및 멘토링 경험, 인도네시아 지원자들과의 심층 면담, 그리고 GKS 관련 문서를 종합적으로 분석하였다.
연구 결과, 지원자들은 설득력 있는 자기소개서와 학업계획서를 작성하기 위해 공식 선발 기준, 평가위원에 대한 상상, 비공식적인 조언, 그리고 멘토링 네트워크를 해석하고 활용하는 것으로 나타났다. 이러한 서사는 자신감과 인정의 경험을 제공하기도 하지만, 동시에 불편함, 압박감, 그리고 내적 불일치를 수반하기도 한다. 본 연구는 국제 장학금, 국제 이동성, 그리고 인정에 대한 불평등한 접근을 비판적으로 조명하는 연구에 기여한다.
다국어 초록 (Multilingual Abstract)
This study examines how Indonesian applicants to the Global Korea Scholarship (GKS) render themselves institutionally ‘readable’ within the university-track selection process. It conceptualises this process as coerced legibility: the pressure ...
This study examines how Indonesian applicants to the Global Korea Scholarship (GKS) render themselves institutionally ‘readable’ within the university-track selection process. It conceptualises this process as coerced legibility: the pressure to translate one’s experiences, achievements, aspirations and future plans into recognisable narratives of merit, preparedness and contribution. Drawing on Bourdieu’s concepts of habitus, symbolic violence and hysteresis, the study argues that merit is not simply possessed, but performed and institutionally recognised. Using relational autoethnography, the research brings together the author’s own GKS application and mentoring experiences, interviews with Indonesian applicants, and analysis of GKS documents. The findings show that applicants interpret official criteria, imagined evaluators, informal advice and mentoring networks to construct persuasive personal statements and study plans. These narratives may produce confidence and recognition, but also discomfort, pressure and dissonance. The study contributes to critical research on international scholarships, mobility and unequal access to recognition.
다국어 초록 (Multilingual Abstract)
Penelitian ini mengkaji bagaimana para pelamar Global Korea Scholarship (GKS) asal Indonesia memosisikan diri agar dapat “terbaca” oleh institusi dalam proses seleksi jalur universitas. Studi ini mengonseptualisasikan proses tersebut sebagai ...
Penelitian ini mengkaji bagaimana para pelamar Global Korea Scholarship (GKS) asal Indonesia memosisikan diri agar dapat “terbaca” oleh institusi dalam proses seleksi jalur universitas. Studi ini mengonseptualisasikan proses tersebut sebagai “keterbacaan yang dipaksakan” (coerced legibility), yaitu tekanan untuk menerjemahkan pengalaman, pencapaian, aspirasi, dan rencana masa depan individu ke dalam narasi kelayakan (merit), kesiapan, dan kontribusi yang dapat dikenali oleh institusi. Dengan bertumpu pada konsep habitus, kekerasan simbolik, dan hysteresis dari Bourdieu, penelitian ini berargumen bahwa kelayakan tidak semata-mata melekat pada diri individu, melainkan harus ditampilkan dan diakui secara institusional. Menggunakan metode autoetnografi relasional, penelitian ini mengintegrasikan pengalaman empiris penulis dalam mendaftar dan membimbing pelamar GKS, wawancara dengan para pelamar asal Indonesia, serta analisis dokumen resmi GKS. Temuan penelitian menunjukkan bahwa para pelamar menafsirkan kriteria resmi, membayangkan ekspektasi penyeleksi, menerima berbagai saran informal, dan memanfaatkan jaringan pendampingan (mentoring) untuk menyusun personal statement dan rencana studi yang persuasif. Kendati narasi-narasi tersebut dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan mendatangkan pengakuan, proses ini juga memicu ketidaknyamanan, tekanan, dan disonansi. Studi ini berkontribusi pada kajian kritis mengenai program beasiswa internasional, mobilitas, dan ketimpangan akses terhadap pengakuan.
목차 (Table of Contents)